Jakarta

Wakil Ketua MPR yang juga Ketua DPP PDI Perjuangan Ahmad Basarah menilai, saat ini tak lagi relevan untuk mendikotomikan nasionalisme dan agama. Pendiri bangsa ini, yakni sang proklamator Bung Karno pun, meski dikenal sebagai tokoh nasionalis, namun banyak meninggalkan warisan tentang keislaman.

“Tak lagi tepat mendikotomikan nasionalisme dengan agama, agama dengan nasionalisme, karena pada hakikatnya nasionalisme Indonesia adalah nasionalisme yang religius,” kata Basarah dalam keteranganya, Sabtu (30/3/2024).

Hal itu disampaikan Basarah dalam acara peringatan Nuzul Quran yang diselenggarakan organisasi sayap PDI-P, Baitul Muslimin Indonesia (Bamusi), di Masjid At Taufiq, Lenteng Agung, jakarta Selatan, Jumat (29/3).


ADVERTISEMENT


SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

“Bung Karno yang oleh sejumlah kalangan disebut sebagai tokoh nasionalis, pada pemikiran dan legacy-nya justru menunjukkan dimensi keagamaan begitu sangat kuat,” sambung Sekretaris Dewan Penasihat PP Bamusi itu.

Basarah menuturkan, Bung Karno mempelajari Islam secara mendalam sejak ia remaja, tepatnya ketika Bung Karno dititipkan di rumah tokoh pimpinan islam, Haji Umar Said Tjokroaminoto.

“Di sana lah Bung Karno digembleng ajaran dan pemikiran Islam,” kata Basarah.

Bung karno juga, kata dia, mengakui Kyai Ahmad Dahlan sebagai pendiri Muhammadiyah adalah guru utama yang ia ikuti. Lalu, Bung karno juga pernah berguru dengan Kyai Ahmad Hasan di Bandung.

“Ketika bung karno dibuang belanda ke Ende, tepi pantai yang sepi, Bung Karno melanjutkan pemikiran islamnya dengan melakukan yurisprudensi dengan Kyai Ahmad Hasan di bandung, yang surat-surat itu sekarang sudah dibukukan,” ujarnya.

Baca halaman berikutnya Bung Karno meneladani perjuangan Nabi Muhammad..



Source link

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *