Jakarta

Bhabinkamtibmas Kelurahan Klawasi, Bripka Sandry Yusuf Rantedatu, berjuang menghapus buta huruf di Sorong, Papua Barat, melalui pusat kegiatan belajar masyarakat Rumbai Koteka. Atas aksinya itu, Bripka Sandry masuk dalam kandidat Hoegeng Awards 2024.

Warga setempat pun memberikan kesaksian mengenai perjuangan Bripka Sandry mendirikan pusat kegiatan belajar hingga menjadi yayasan. Hingga saat ini, lebih dari 900 warga telah memperoleh pendidikan di Rumbai Koteka.

Bripka Sandry mendirikan Rumbai Koteka sejak tahun 2017. Dia mengajak komunitas peduli pendidikan untuk menjalankan program ini. Hal itu diceritakan oleh salah satu relawan pengajar di Rumbai Koteka, Juliyanti.


ADVERTISEMENT


SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

“Awal mulanya itu, Pak Sandry memang Bhabinkamtimas, beliau orang yang selalu melihat kondisi-kondisi di masyarakat, ditemukanlah ternyata beberapa masyarakat itu yang belum bisa baca tulis, nah tersentuhlah hati Pak Sandry,” kata Juliyanti kepada detikcom.

Bhabinkamtibmas Klawasi, Bripka Sandry Yusuf Rantedatu, sosok di balik program Rumbai Koteka.Bhabinkamtibmas Klawasi, Bripka Sandry Yusuf Rantedatu, sosok di balik program Rumbai Koteka. (Foto: dok. istimewa)

Melihat kondisi di wilayah binaannya, Sandry kemudian menggagas kegiatan belajar secara gratis. Semua kebutuhan di antaranya buku, pensil, pena hingga alat tulis lainnya dibeli dengan dana pribadi. Sandry juga menggandeng sukarelawan yang bergerak di bidang pendidikan.

“Itu disampaikan ke kami teman-teman ini dan kita saling support buatlah yayasan ini sampai dengan berdiri sebesar ini sekarang,” kata Yuliyanti.

Yuliyanti itu berjuang bersama Sandry dari awal berdirinya kegiatan belajar ini. Yuliyanti mengaku tahu persis perjuangan yang dilakukan Sandry agar warga bisa membaca dan menulis.

Dia menilai Sandry adalah sosok polisi yang tak pernah patah semangat. Walaupun tak punya latar belakang sebagai pengajar, Bripka Sandry disebut bisa mengambil hati anak-anak dengan mudah.

“Cara mengajar beliau dengan cara yang sangat luar biasa. Kalau saya melihat awal beliau mengajar itu, cepat anak-anak menangkap apa yang diajarkan oleh Pak Sandry,” katanya.

Perbedaan suku dan agama tak menghalangi Bripka Sandry untuk dekat dengan warga setempat. Yulianti menilai Sandry sosok polisi yang gampang bergaul dengan masyarakat. Dia memiliki pendekatan yang berbeda hingga warga tergerak hatinya untuk datang belajar baca dan tulis.

“Dengan kedekatan Pak Sandry itu mereka sangat merespons sekali. Bahkan beberapa waktu ini, Pak Sandry sempat ada istirahat sakit, mereka merindukan hal itu. Pak Sandry itu Bhabin yang sangat dikenal, kedekatan beliau itu tidak melihat siapapun dia, tidak,” jelasnya.

Bhabinkamtibmas Klawasi, Bripka Sandry Yusuf Rantedatu, sosok di balik program Rumbai Koteka.Bhabinkamtibmas Klawasi, Bripka Sandry Yusuf Rantedatu, sosok di balik program Rumbai Koteka. (Foto: dok. istimewa).

Tak hanya dengan peserta didik, Sandry juga disebut sangat dekat dengan para relawan yang mengajar di Rumbai Koteka. Yuliyanti pun merasakan kedekatan dengan Sandry itu.

“Saya kadang tidak bercerita langsung ke beliau, kadang pasang status ‘lebih sabar lagi’ kayak-kayak gitu kan, jadi Pak Sandry ngambil status saya terus bilangya gini ‘Ayo, Bu Ses, semangat, jangan pantang menyerah, kamu harus kuat’,” kata Yuliyanti menurutkan percakapannya dengan Sandry.

Yulianty menyebut Bripka Sandry sangat dekat dengan anak-anak didiknya. Bripka Sandry disebut selalu menerima anak-anak dalam kondisi apapun.

“Kalau cerita kocaknya adalah kadang mereka (anak-anak) lagi pilek misalnya, ya sudah (dibersihkan ingusnya) sama Pak Sandry, tidak ada rasa jijik, kadang datang belum mandi, Pak Sandry tetap menerima itu,” ucap dia.

Kegiatan belajar yang digagas oleh Sandry ini fokus kepada anak-anak yang putus sekolah dan tidak bisa baca tulis. Rumbai Koleka ini juga menyediakan ujian paket C, sehingga anak yang putus sekolah bisa mendapatkan ijazah dan melanjutkan ke jenjang pendidikan berikutnya.

“(Untuk) masyarakat yang membutuhkan ijazah, tapi benar-benar programnya itu mengikuti program pemerintah, tidak seperti datang, mendaftar, terus ujian. Jadi saya tidak mau yang asal-asalan begitu,” tutur Yuliyanti.

Saat ini, Rumbai Koteka telah menjadi yayasan. Yayasan ini ada di bawah pembinaan Polda Papua Barat. Sementara rumah belajar Rumbai Koteka ini menjangkau Papua Barat dan Papua Barat Daya.

“Kalau di tempat kami itu kebetulan arahan dari Pak Sandry, arahan dari pimpinan atas kami, dari Kapolda itu tidak dipungut biaya apapun itu, jadi mereka hanya datang belajar, buku, pena, pensil bahkan sarana yang lainnya itu semua kami yang menyiapkan,” tutur dia.

Bhabinkamtibmas Klawasi, Bripka Sandry Yusuf Rantedatu, sosok di balik program Rumbai Koteka.Bhabinkamtibmas Klawasi, Bripka Sandry Yusuf Rantedatu, sosok di balik program Rumbai Koteka. (Foto: dok. istimewa).

Bripka Sandry Gagas Rumbai Koteka

Sebelumnya diberitakan, Bripka Sandry adalah pencetus Rumbai Koteka, program belajar baca, tulis, dan hitung (calistung) bagi warga yang putus sekolah dan buta aksara di Klawasi. Program ini dirintis Bripka Sandry sejak 2017 silam, dan kini menjangkau 900 warga Kota Sorong.

“Jadi program ini memang saya buat di awal 2017, tepatnya 10 Januari 2017. Rumbai Koteka ini sendiri sebenarnya dulu namanya tidak Rumbai Koteka,” kata Bripka Sandry kepada detikcom, Senin (9/10/2023).

Ratusan kasus pidana yang terjadi di Kelurahan Klawasi menjadi awal mula Bripka Sandry menaruh perhatian pada kualitas pendidikan warga. Yang mengusik hati Bripka Sandry, pelaku kejahatan dan gangguan keamanan, ketertiban masyarakat (kamtibmas) di antaranya anak-anak.

“Saya bergabung dengan Bhabinkamtibmas di 2016, saya ditugaskan di Sorong Barat, Kelurahan Klawasi. Di Klawasi, tingkat kriminalitasnya sangat tinggi, dan masuk dalam peta kerawanan masuk daerah merah walaupun dia di pinggir kota,” ucap Bripka Sandry.

“Salah satu penyumbang tingkat kejahatan yang tinggi bukan hanya dari pelaku orang dewasa, tetapi juga dari anak-anak. Saya kemudian mencari tahu yang melatarbelakangi masalah ini, sampai anak-anak jadi penyumbang konflik,” sambung dia.

Hasil analisis Bripka Sandry saat itu adalah tingginya angka buta aksara dan anak putus sekolah di Klawasi menjadi faktor anak-anak melakukan perbuatan menyimpang, bahkan kriminal. Faktor lainnya, lanjut Bripka Sandry, adalah anggapan ‘jadi preman itu keren’.

“Lalu lebih dalam lagi bahwa ternyata banyak mereka tidak mengenyam pendidikan formal. Jadi salah satunya itu, tidak mengenyam pendidikan formal. Kalau pun ada, mereka putus sekolah karena perekonomian rendah, faktor lingkungan yang memandang pendidikan tidak penting,” tutur Bripka Sandry.

“Yang mengagetkannya lagi, stigma yang muncul di anak-anak, ‘Kalau jadi preman sesuatu yang keren, akan lebih dihormati’, itu anak-anak usia 9 tahun, ada yang 17, 21 tahun ndak sekolah. Ada yang umur 11 tahun sudah mencuri berulang kali dan lihai melakukan kejahatan itu,” lanjut Bripka Sandry.

Bhabinkamtibmas Klawasi, Bripka Sandry Yusuf Rantedatu, sosok di balik program Rumbai Koteka.Bhabinkamtibmas Klawasi, Bripka Sandry Yusuf Rantedatu, sosok di balik program Rumbai Koteka. (Foto: dok. istimewa).

(lir/knv)



Source link

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *