Jakarta

Bhabinkantibmas Polsek Wolya Barat, Polres Aceh Barat, Aiptu Dedi Suardi mengobati warga yang terkena stroke tanpa mematok harga. Karena itu, banyak warga yang meminta tolong dan merasa terbantu oleh aksinya tersebut.

Salah satu warga Aceh Barat, Gunawan (38), menyebut warga merasa senang dengan keberadaan Aiptu Dedi Suardi. Dia mengusulkan Aiptu Dedi sebagai kandidat Hoegeng Awards 2024. Berikut testimoni dari Gunawan:

Aiptu Dedi, sosok polisi yang tugasnya melindungi, mengayomi dan melayani masyarakat dan ditambah dengan sosok polisi yang peduli akan kesehatan, beliau polisi yang ahli di bidang kesehatan, selain bertugas sehari-hari menjadi Bhabinkamtibmas, di sela-sela tugasnya beliau mendirikan klinik pribadi untuk masyarakat yang sakit.


ADVERTISEMENT


SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Dengan membayar seikhlas hati, Bhabinkamtibmas tugasnya door to door menyambangi masyarakat, begitu juga dengan Doto Dedi, panggilan akrab-nya di desa kami, beliau melayani masyarakat yang sakit dan membutuhkan dengan ketulusan hati, sosok yang sangat ramah dan berbaur dengan masyarakat, beliau merupakan penerus Hoegeng sejati, salam dari Aceh Barat.

detikcom telah menghubungi Gunawan untuk menggali cerita tentang Aiptu Dedi. Menurut Gunawan, Aiptu Dedi tak mematok bayaran untuk pengobatan.

“Beliau tulus, tidak mematok biaya pengobatan. Kami Sangat terharu, jarang sekali sosok polisi yang seperti itu,” kata Gunawan saat dihubungi, Jumat (8/3/2024).

Gunawan menyebut salah satu keluarganya mengalami sakit stroke. Sudah lima bulan Aiptu Dedi datang setiap dua minggu sekali untuk melihat perkembangan saudaranya.

“Jadi awal stroke itu langsung ke penanganan dengan Doto Dedi. Dia tak ke rumah sakit karena sudah nyaman ke Doto Dedi. Sudah jalan lima bulan alhamdulillah membaik,” katanya.

“(Sebelumnya) badannya sebelah tak bisa diangkat, kaki tangan. Sekarang bisa jalan, namun (mengendarai) sepeda motor belum bisa,” katanya.

Gunawan mengaku sudah menganggap Aiptu Dedi seperti saudara sendiri, meskipun Aiptu Dedi bukan warga asli Wolya Barat.

“Doto Dedi saudara kami meski bukan warga Wolya Barat, sampai segitunya. Dia tak punya saudara di Wela Barat, kamilah saudaranya,” katanya.

Aiptu Dedi Suardi saat memeriksa warga yang sakit di Wolya Barat, Aceh Barat.Aiptu Dedi Suardi saat memeriksa warga yang sakit di Wolya Barat, Aceh Barat. Foto: dok.istimewa

Pengobatan Metode Komunikasi Terapeutik

detikcom menghubungi Aiptu Dedi untuk mengkonfirmasi soal kegiatan pengobatan warga itu. Dia mengatakan, awalnya tak ada niat untuk memberikan pengobatan kepada warga.

Aiptu Dedi, yang merupakan juga lulusan Akademi Keperawatan, mengatakan pada 2018 menjadi Bhabinkantibmas di Polsek Wolya Barat, dia tinggal dia bertamu ke salah satu rumah warga. Dia melihat ada anggota keluarga yang stroke dan tak bisa berjalan.

“Yang punya rumah Teungku, imam masjid, saya lihat abangnya tak bisa jalan. Saya bilang, Teungku, ‘Kenapa Abang?’ Abang kena ini lah, ini lah, itu lah. ‘Ada dibawa ke dokter?’ Ada tapi belum ada perubahan,” kata Aiptu Dedi.

Dedi pun meminta izin untuk mengobati keluarga Teungku itu. Dia mengatakan bahwa dirinya punya latar dan pendidikan keperawatan.

“Kalau bapak bersedia, saya belikan obat, jangan pedulikan biaya waktu itu. Saya berikan vitamin segala macam, alhamdulillah. Saya wawancara, karena saya banyak ngomong, kasih support, semangat. ‘Tak ada penyakit yang tidak bisa sembuh, kalau Allah meridhoi,'” katanya.

“Saya obati, saya berikan vitamin, dan macam-macam. Alhamdulillah, waktu berjalan, abang ini bisa berdiri. Itu kuasa Allah, bukan kita. Saya heran kok bisa, memang Allah berkehendak, bisa-bisalah,” katanya.

Untuk pengobatan stroke, Dedi menggunakan metode komunikasi terapeutik. Dikutip dari situs Kemkes, komunikasi terapeutik adalah komunikasi yang dirancang dan direncanakan untuk tujuan terapi, dalam rangka membina hubungan antara perawat dan pasien agar dapat beradaptasi dengan stres, mengatasi gangguan psikologis, sehingga dapat melegakan serta membuat pasien merasa nyaman, yang pada akhirnya mempercepat proses kesembuhan pasien.

“Dari segi percakapan, saya petik di situ, saya tanya, ketika beliau reflek spontan mengatakan, Insyaallah bisa sembuh, ‘alhamdulillah’ saya jawab,” katanya.

“Ada juga pasien awal-awal jawab ragu, itu kesembuhan lambat, nggak nampak. Waktu saya belajar dulu, istilah pengobatan orang itu bukan hanya obat-obatan, ada satu obat yang manjur, dan jarang orang pakai, yaitu komunikasi trapeutik,” katanya.

Selengkapnya di halaman selanjutnya.



Source link

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *