Jakarta

“Bunga adalah bunga dan ulat adalah ulat. Sebenarnya, tidak ada yang baik atau buruk. Demikian pula hidup dan mati.”

Kutipan tersebut diambil dari buku Things Left Behind: Hal-hal yang Kita Pelajari dari Mereka yang Telah Tiada. Tulisan karya Kim Sae Byoul dan Jeon Ae Won ini menceritakan refleksi keduanya selama berprofesi sebagai pembersih barang peninggalan orang wafat. Buku yang kemudian menginspirasi drama Korea Move to Heaven (2021) ini menggabungkan pengalaman pribadi dan renungan personal sang penulis mengenai kematian yang, tak perlu ditampik, begitu dekat dengan kehidupan itu sendiri.


ADVERTISEMENT


SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Kendati profesinya bersifat membantu banyak keluarga untuk ‘move on’ dari kematian mendiang, nyatanya Kim Sae Byoul dan pegawai-pegawainya kerap dianggap sebelah mata. Upah yang relatif kecil, hingga diskriminasi dari masyarakat sekitar dituturkan keduanya dalam buku yang terbit pada 2020 itu.

Nyatanya hal itu juga terjadi di Indonesia. Pada sebuah komplek pemakaman legendaris di kawasan Ibukota, ada seorang penjaga makam yang memiliki wawasan sendiri tentang hidup dan mati. Meski profesinya dekat dengan hawa kematian, jiwanya tidak serta-merta redup oleh duka yang tertinggal oleh keluarga-keluarga si mati.Ialah Mohammad Slamet, pemelihara makam di TPU (Taman Pemakaman Umum) Tanah Kusir, Jakarta Selatan.

Dua puluh empat tahun sudah Slamet membantu menjaga ‘rumah’ mereka yang telah berpulang. Saat ditemui, Slamet terlihat sibuk menyapu sebuah petak makam, satu dari 40 makam yang menjadi tanggung jawabnya saat ini.

“Pemakaman yang saya rawat dan saya urus itu kurang lebih sekitar 40 makam. Lokasinya beda-beda. Bloknya ada yang di sebelah selatan, utara, barat, timur, ada,” tutur Slamet di program Sosok detikcom.

Slamet sudah akrab dengan kematian sejak usia belia. Sejak kecil, ia biasa membantu proses penguburan dan perawatan makam di sekitar rumahnya. Saat dewasa, Slamet menikah dengan putri seorang pemelihara makam. Terbiasa membantu ayah mertuanya, Slamet pun melanjutkan pekerjaan ini bahkan selepas wafatnya sang ayah mertua.

Kegiatan Slamet di makam mencakup memotong rumput, menyiram dan mengepel keramik makam, dan memberi pupuk. Ia bekerja setiap hari pukul 8 pagi hingga 5 sore. Namun, tidak menutup kemungkinan terkadang ia masih bekerja di malam hari.

Sebagai pemelihara makam, Slamet menyadari persepsi negatif orang terhadap kematian dan pemakaman. Tempat tersebut kerap dianggap angker dan sarat akan hal mistis. Oleh karenanya, beberapa orang merasa takut dengan pemakaman.

Meski demikian, Slamet mengaku tidak pernah mengalami hal mistis selama bekerja. Menurutnya, mengurus makam ia lakoni secara biasa-biasa saja, layaknya pekerjaan pada umumnya.

“Alhamdulillah semenjak saya jadi perawat makam ini belum pernah ya namanya terjadi menemukan hal-hal yang horor, gaib atau apa, nggak ada. Jadi kita sudah menyatu, sudah biasa saja, seperti umumnya saja bekerja,” aku Slamet.

Slamet tidak memungkiri bahwa bisa saja orang berpersepsi negatif terhadap profesinya. Namun, itu bukan masalah besar bagi Slamet. Baginya, semua pekerjaan sama dan tak bisa dinilai baik buruknya begitu saja.

“Orang mau ngomong apa, terserah. Yang penting kita jalanin, apa adanya. Suatu profesi itu kan nggak bisa orang menilainya bagus atau apa, Dan kalau misalnya dalam satu pekerjaan kita walaupun gaji tinggi, kalau kitanya nggak suka? Nggak sehati, ya percuma. Kan gitu. Kalau walaupun gaji kecil, kita tulus ikhlas, senang di hati, kan kita jalanin ya Insya Allah, langgeng,” ujar Slamet.

Layaknya Kim Sae Byoul, Slamet juga banyak merenung dari profesinya. Sehari-hari menghabiskan waktu di makam, Slamet juga kerap membayangkan masa hidup orang-orang yang ‘rumahnya’ ia urusi. Tiap-tiap jenazah yang terkubur, dulunya adalah bagian dari sebuah keluarga. Tatkala Slamet melihat kuburan yang tidak diurus oleh ahli waris, atau jarang dikunjungi keluarga, hatinya pun ikut mencelos.

“Kita di sini pemakaman, banyak ya, ada yang peduli sama orang tuanya, (ada pula yang) setelah mati ya nggak pernah dikunjungin. Bayangkan, makam orang tuanya banyak ini yang bisa kita lihat di sini kan, banyak yang nggak terawat. Ya, kita merasa sedih juga ya. Saya penginnya ngelihatnya makamnya bagus, rapi, terawat. Tapi kan kita masing-masing ahli waris lain-lain pendapatnya,” ungkap Slamet.

Bagi Slamet, makam tidak lain ialah rumah bagi mereka-mereka yang sudah berpulang. Tak hanya itu, makam juga merupakan penyambung antara keluarga yang masih hidup dan yang sudah meninggal. Maka, ‘rumah-rumah’ itu mesti dijaga Slamet dengan sebaik-baiknya.

“Kita merawat makam dengan kasih sayang. Yang sudah mati pun, toh, dia bisa melihat, cuman kita nggak bisa melihat. Kadang saya memetik bunga sepatu di pohon, terus saya susun di atas makam. Saya foto, kirim ke ahli waris. Suatu kebahagiaan saya bila ahli waris itu merasa senang, makamnya bagus, rapi, bersih,” jelas Slamet.

Slamet mengaku bersyukur dengan profesinya ini. Selain bisa membantu banyak orang, Slamet juga seakan selalu diingatkan kembali untuk berintrospeksi diri.

“Kita merawat makam, kita hanya berintrospeksi diri kita sendiri. Semuanya, manusia, bakal kembali ke Sang Pencipta. Jadi nggak ada untuk istilahnya takut atau merasa kematian itu seram, atau gimana, nggak ada. Orang mati ini kan, pelajaran, tapi yang tidak bisa bicara,” tutur Slamet.

Menghadapi kematian hampir setiap hari selama lebih dari dua dekade, menyadarkan Slamet bahwa kehidupan tak ubahnya tabungan untuk kematian. Sebagai seorang muslim, Slamet hanya berharap hal-hal yang dilakukannya dianggap sebagai kebaikan dan bisa jadi tabungannya di akhirat kelak. Dengan demikian, ia tak pernah takut akan kematian yang sewaktu-waktu bisa menjemput.

“Apapun yang kita kerjakan, baik bekerja perawat makam, supir, di luar sana, ya, semua semata-mata karena Allah. Kalau saya (berharap) kebaikan aja yang selalu dikenang. (Kematian) pasti datang. Pasti dengan gilirannya masing-masing. Dan pada waktunya ajal sudah sampai ya, kita terima,” ucap Slamet.

(nel/vys)



Source link

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *