Jakarta

Kabareskrim Polri Komjen Wahyu Widada bicara mengenai kecerdasan buatan atau AI (artificial intelligence), dan kaitannya dengan tugas dan tantangan Polri di masa kini serta mendatang. Wahyu menekankan soal kemampuan anggota Polri beradaptasi dengan berkembangan teknologi.

“Bangsa yang paling maju sekarang bukan bangsa yang paling besar. Makhluk yang bisa survive sekarang bukan makhluk yang paling kuat dan paling besar, tapi manusia. Karena apa? Karena manusia bisa survive, bisa beradaptasi dengan bumi,” ucap Wahyu mengawali pidatonya dalam Seminar Sekolah Mahasiswa S1 STIK Angkatan 81 di Auditorium Mutiara Sekolah Tinggi Ilmu Kepolisian (STIK), Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Selasa (2/4/2024).

Seminar ini bertajuk ‘Navigating Through the AI Impersonation Deluge: Shaping a Roadmap for Government Response‘. Wahyu menyebut kini manusia akrab dengan kata ‘digitalisasi’, bahkan aspek kehidupan pun kini berlomba serba makin digital.


ADVERTISEMENT


SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

“Perkembangan teknologi ini menyebabkan sebuah proses digitalisasi yang mempengaruhi berbagai aspek hidup manusia, baik di bidang pemerintahan, pendidikan, dan keamanan,” ujar Wahyu.

“Di ibu kota negara, nanti pemerintah akan menerapkan smart city. Artinya akan dikembangkan hal-hal terkait dengan seperti ini. Ini harus kita siapkan semuanya,” lanjut Wahyu.

Di tengah kemudahan, kecepatan dan kepraktisan yang ditawarkan digitalisasi karena adanya AI, Wahyu menegaskan bahawa AI pun menyimpan tantangan sendiri, khususnya untuk kepolisian yang memiliki tugas pokok dan fungsi dalam menjaga ketertiban dan keamanan masyarakat (kamtibmas).

“Kehadirannya bisa jadi solusi, tapi juga bisa jadi tantangan. Sehingga kita harus bijak memanfaatkannya. Kalau tiba-tiba robot yang dibikin manusia, bisa memanipulasi dirinya, membuat algoritma dirinya sendiri tak bisa kita kendalikan, mereka akan menjadi musuh kita,” ucap Wahyu.

Dia pun mendorong mahasiswa PTIK/STIK Lembaga Pendidikan dan Pelatihan (Lemdiklat) Polri berada di garda terdepan dalam menaikkan tingkat kemampuan terkait AI, setelah lulus nanti. Wahyu juga menekankan para mahasiswa harus punya arah mengembangkan diri dan terus belajar sepanjang hayat.

“Jadi AI tidak hanya bisa membantu kebaikan, tapi dapat mendorong kejahatan menjadi prevalen. Saya mendorong mahasiswa PTIK setelah lulus, naik kelas, berada di garda terdepan meng-upgrade kompetensi, meng-upgrade kapasitas ini,” tutur mantan Asisten Kapolri bidang Sumber Daya Mineral (As SDM) ini.

“Mahasiswa, saya minta, memiliki arah dan tujuan, terus menjadi pembelajar sepanjang masa, dan terus memberi motivasi bagi internal untuk terus catch up dengan teknologi yang ada. AI ini bukan barang baru, tapi penguatan dari apa yang sudah ada,” lanjut dia,” tambah dia.

Mantan Kapolda Aceh ini juga mengingatkan kembali pernyataan Presiden Joko Widodo (Jokowi) soal enam negara besar berbicara khusus mengenai AI saat G20 di India. “Pak Presiden kemarin sudah menyatakan, ‘Pada waktu terakhir G20 di India, urusan AI ini enam negara besar berbicara secara khusus. Saya menangkap ada ketakutan-ketakutan yang amat sangat mengenai AI’,” kata Wahyu sambal mengulangi ucapan Jokowi kala itu.

Strategi Bareskrim

Wahyu menyebut ada empat poin yang dapat dimaksimalkan penerapannya untuk menghadapi tantangan AI dan perkembangan teknologi. Agar kamtibmas tetap dalam kendali Polri.

“Kejahatan ini selalu menjadi pertarungan, yang didukung dengan AI. AI nanti akan memperluas spektrum kejahatan dan meningkatkan skala kejahatan. Pemolisiannya harus bagaimana? Harus beradaptasi, adaptif terhadap perkembangan AI, untuk menganalisa data-data dan mengenali pola-pola dan membuat prediksi,” ungkap Wahyu.

Wahyu membeberkan kejahatan di dunia siber semakin meningkat. Terbanyak adalah kasus pencemaran nama baik, penipuan, pornografi dan illegal access.

“Kejahatan siber yang ada di Indonesia ini terus mengalami, jumlah bertambah banyak. Januari sampai Maret 2024 sendiri, ada 669 kasus yang ditagani dengan 448 kasus sudah dapat diselesaikan,” sebut dia.

“Di era enable future crimes, Pemerintah harus berada di garis terdepan terkait kebijakan yang mengatur untuk memperkuat strategi ketahanan siber secara komprehensif. Bukan hanya tentang mengamankan infrastukturnya semata, tapi juga memperkuat ketahanan masyarakat terhadap manipulasi informasi, penipuan dan pencurian data. Juga membuat kerangka regulasi yang adaptif,” terang Wahyu.

Berikut strategi Bareskrim dalam penanganan kejahatan siber di era AI:

– Melakukan kegiatan deteksi dini dan quick response, melakukan patroli siber terhadap isu-isu di media sosial

– Penataan dan penguatan organisasi

Capacity building yakni dengan pengembangan kompetensi anggota Polri

– Penyidikan terintegrasi

“Penataan dan penguatan organisasi, di mana kita akan membentuk 8 Direktorat Siber di tingkat polda. Dan ini sudah disetujui, terima kasih kepada Menpan RB. Di antaranya di Sumatera Utara, Polda Metro Jaya, jabar, Jatim, Bbali, Sulawesi Tengah dan Papua,” ucap Wahyu.

(aud/dhn)



Source link

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *