Jakarta

Praka Supriyadi meninggal dunia usai dibacok 4 kali menggunakan pedang panjang di wilayah Bantargebang, Kota Bekasi. Praka Supriyadi yang merupakan anggota Denpom 35 Bandung, pulang ke Bekasi untuk menengok anak dan istrinya.

“Terkait dengan anak buah saya sendiri, dia adalah anggota POM dari Denpom 35 Bandung itu adalah memang warga di Bekasi. Sehingga posisi ada di sana itu lagi menengok anaknya dan istrinya,” kata Wadan Puspomad Mayjen TNI Eka Wijaya Permana di Polda Metro Jaya, Rabu (3/4/2024).

Praka Supriyadi meninggal dunia usai dibacok oleh Aria Wira Raja (AWR) alias Deo alias Bocil menggunakan pedang panjang. Korban diketahui dibacok sebanyak sebanyak 4 kali.


ADVERTISEMENT


SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Wira mengatakan tersangka membacok ke arah kepala dan tangan Praka Supriyadi. Dari hasil visum, Praka Supriyadi dinyatakan meninggal dunia setelah mengalami kerusakan jaringan otak.

“Saudara tersangka A melakukan pembacokan terhadap korban dengan menggunakan pedang yang sudah kita sita, sebanyak 4 kali,” kata Dirkrimum Polda Metro Jaya Kombes Wira Satya Triputra.

Atas kasus tersebut dia dijerat Pasal 355 ayat 2 dan/atau Pasal 351 ayat 3 dengan ancaman maksimal 15 tahun penjara.

Pemicu Pembacokan

Dirkrimum Polda Metro Jaya Kombes Wira Satya Triputra mengatakan mulanya pada Jumat (29/3) malam Praka Supriyadi dihubungi rekan wanitanya berinisial W. Saat itu W mengaku diajak tersangka untuk melakukan hubungan badan di salah satu apartemen di Kota Bekasi.

“Saksi W alias S diajak untuk berhubungan badan dengan tersangka di apartemen Bekasi. Ternyata antara saudara W alias S dengan saudara tersangka terdapat selisih paham, yang mana akibat selisih paham tersebut, saudara saksi atas nama W alias S mengontak korban Supriyadi,” kata Wira dalam jumpa pers di Polda Metro Jaya, Rabu (3/4/2024).

Setelah mendengar hal tersebut, Praka Supriyadi bersama rekannya mendatangi tersangka di apartemen tersebut. Setelahnya, mereka bergeser ke rumah tersangka dengan maksud menyelesaikan masalah yang ada. Saat itu Praka S mengendarai motor berboncengan dengan tersangka.

“Kemudian, di perjalanan tujuannya dari tempat apartemen sebenarnya tujuannya mau ke rumah saudara Arya (tersangka). Namun di tengah jalan saudara Arya membelokkan arah, malah ke rumah teman Arya atas nama saudara Alvian,” ujarnya.

Di tengah perjalanan, tersangka tiba-tiba meneriaki Praka Supriyadi begal untuk mengundang warga sekitar. Saat itu juga tersangka mengambil pedang dari rumah temannya Alvian.

“Pada saat di pinggir di depan jalan perumahan saudara Alvian, tiba-tiba tersangka berteriak dengan kata-kata ‘begal, begal, begal’. sehingga mengundang perhatian warga. Selanjutnya saudara tersangka A mengambil pedang panjang yang berada di teras saksi Alvian,” tuturnya.

Tersangka meneriaki Praka Supriyadi begal lantaran ketakutan saat hendak menyelesaikan perselisihan yang ada.

“Sebetulnya yang bersangkutan (tersangka) merasa ketakutan. Karena ketakutan dan ketika sampai di rumah warga atau temennya sendiri atas nama Alvian dengan dia teriak begal ini akan mendapatkan pertolongan dari warga,” tuturnya.

(wnv/mea)



Source link

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *