Jakarta

Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan RI (KLHK) melalui Biro Hubungan Masyarakat menggelar kegiatan talkshow Green Ramadan di Lobby Utama Blok 1, Lt 1, Gedung Manggala Wanabakti, Jakarta Pusat. Green Ramadan ini dimaksudkan untuk berbagi wawasan dan pengetahuan terkait praktik-praktik penyelamatan dan perlindungan lingkungan hidup yang dilakukan oleh para aktivis dan tokoh masyarakat.

KLHK menggelar Green Ramadan sebanyak 2 kali pertemuan pada tanggal 2 dan 4 April 2024. Pada diskusi yang pertama, para narasumber membahas tema ‘Kebersihan Sungai dari Timbunan Sampah’.

Sedangkan pada diskusi kedua, akan membahas ‘Perilaku Ramah Lingkungan dalam Upaya Mitigasi Iklim’. Green Ramadan tahun ini, KLHK mengajak para generasi muda yang tergabung dalam Green Leaders Indonesia (GLI), Green Youth Movement (GYM) dan Green Ambassador untuk hadir langsung berdiskusi dalam Green Ramadan ini.


ADVERTISEMENT


SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Dalam kesempatan ini, Direktorat Mitigasi Perubahan Iklim KLHK Franky Zamzani menyampaikan aksi mitigasi diperlukan dalam upaya pengendalian perubahan iklim. Dirinya menerangkan bahwa aksi mitigasi adalah pada intinya bagaimana mengurangi emisi gas rumah kaca (GRK) yang menyebabkan suhu bumi memanas.

“Jadi, semua aktivitas yang dilakukan dengan tujuan untuk mengurangi emisi GRK disebut aksi mitigasi, karena iklim disini berhubungan dengan kenaikan suhu bumi,” terang Franky, dalam keterangan tertulis, Jumat (5/4/2024).

Dalam agenda yang digelar pada Selasa (2/4/2024), Franky menyebutkan jika suhu bumi mengalami kenaikan 1 derajat saja, maka tinggi muka air laut akan naik hingga 2,3 meter. Maka dari itu, Pemerintah Indonesia dan negara-negara lain dalam UNFCCC berkomitmen mencegah kenaikan suhu global hingga 1,5 derajat Celcius.

“Bisa dibayangkan, masyarakat yang sawahnya ada di pesisir, pemukimannya ada di pesisir, kalau air laut naik 2,3 meter, dan target kita menahan suhu global agar tidak naik hingga 1,5 atau 2 derajat pada tahun 2030,” ucap Franky.

Ketika ditanya apakah target tersebut optimis dapat dicapai pada tahun 2030, Franky menyatakan bahwa perlu pelibatan seluruh pemangku kepentingan dari semua kalangan, termasuk para generasi muda.

“Makanya kita perlu keterlibatan Gen Z, karena ketika bicarakan isu iklim yang mana perlu berbuat sesuatu agar tidak menghasilkan emisi, maka tidak hanya negara saja yang melaksanakan, atau private sector saja, atau masyarakat di daerah saja, tapi semua dilibatkan termasuk Gen-Z,” terang Franky.

Pada kesempatan yang sama, Direktur Eksekutif Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI) Suci Fitriya Tanjung menyampaikan pihaknya memamndang sebagai sebuah upaya atau gerakan yang melibatkan generasi muda terdapat kemajuan yang signifikan.

“Jadi Gen Z yang hadir pada saat ini juga termasuk dalam yang telah mempunyai kesadaran,” ucap Suci.

Dirinya menambahkan menurut penelitian yang berkembang, generasi muda saat ini, dalam 30 hingga 50 tahun mendatang, memiliki 2-7 kali lipat dampak dari krisis iklim dari yang terjadi saat ini.

“Kalau ingin mewujudkan keadilan iklim antar generasi, memang harus dilibatkan semuanya termasuk Gen-Z,” terang Suci.



Source link

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *