Jakarta

Marsekal TNI Tonny Harjono resmi dilantik Presiden Joko Widodo (Jokowi) menjadi Kepala Staf Angkatan Udara (KSAU). Ketua Komisi I DPR Meutya Hafid bicara rekam jejak yang dimiliki Marsekal Tonny sebagai pilot jet tempur.

“Marsekal TNI Mohamad Tonny Harjono memiliki rekam jejak yang menarik dan mungkin jarang dimiliki oleh personel TNI lainnya. Marsekal Tonny adalah salah seorang pilot pesawat jet tempur, yang memiliki jam terbang tinggi menerbangkan pesawat jet tempur F-16, dan pesawat jet tempur Su-30, serta Su-27,” kata Meutya kepada wartawan, Jumat (5/4/2024).

“Jika melihat pengalaman sebagai pilot jet tempur, tidak perlu kita ragukan lagi, mereka yang terbaik yang terpilih menjadi pilot pesawat jet tempur,” sambungnya.


ADVERTISEMENT


SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Meutya juga menyinggung kiprah Marsekal Tonny sebagai Panglima Komando Operasi Udara Nasional (Pangkoopsudnas). Menurutnya, Marsekal Tonny telah memahami berbagai persoalan pelanggaran di wilayah udara Indonesia.

“Selain itu, pengalaman terakhir Marsekal TNI Mohamad Tonny Harjono sebagai Panglima Komando Operasi Udara Nasional, membuat ia memahami berbagai persoalan pelanggaran di wilayah udara Indonesia,” kata dia.

Ketua DPP Golkar ini menyambut baik dilantiknya Marsekal Tonny sebagai KSAU baru yang bertepatan dengan HUT TNI AU. Seiring dengan itu, Meutya mengingatkan masih ada sejumlah pekerjaan rumah atau PR bagi KSAU, salah satunya modernisasi alutsista.

“Penunjukan Marsekal TNI Mohamad Tonny Harjono sebagai KSAU begitu dekat dengan tema HUT TNI AU ke 78 yaitu ‘TNI AU yang Disegani di Kawasan Siaga Senantiasa Mengamankan Kedaulatan Wilayah Udara Nasional untuk Indonesia Maju’,” ujarnya.

“Tentunya banyak tugas menanti KSAU baru, di antaranya modernisasi alutsista dan pengembangan kemampuan personel. Kehadiran 4 pesawat C-130-J Super Hercules baru disertai dengan pengembangan kemampuan personel yang akan mengoperasionalkan pesawat,” lanjut dia.

Meutya berharap Marsekal Tonny mampu memutakhirkan alutsista dan meningkatkan kemampuan para prajurit AU. Sebab, menurutnya, RI memiliki kepentingan untuk memperkuat pertahanan udara di kawasan.

“KSAU juga perlu mempersiapkan kemampuan personel serta sarana prasarana jelang kedatangan 42 pesawat jet tempur Rafale. Sebagai negara kepulauan yang luas Indonesia membutuhkan pertahanan udara yang kuat,” kata Meutya.

“Kami semua berharap KSAU baru mampu terus melakukan modernisasi alutsista dan mengembangkan kemampuan personel TNI AU sehingga selain mampu mengikuti zaman juga menjadikan TNI AU sebagai kekuatan udara yang disegani di kawasan,” lanjutnya.

(fca/rfs)



Source link

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *